Sejak dua tahun belakangan ini aku memiliki hobi baru yakni travelling. Travelling yang aku lakukan adalah menggunakan sepeda motor menjelajahi daerah-daerah yang sama sekali aku belum pernah melewatinya. Suatu ketika di tahun 2008, saat minggu-minggu ujian aku memiliki waktu senggang di antara padatnya jadwal ujian selama satu pekan. Beberapa hari sebelumnya aku telah berpikir untuk bisa memanfaatkan waktu senggang tersebut untuk melakukan perjalanan ke Bali.
Pada awalnya, aku tidak tahu bagaimana bisa bertahan hidup di Bali, sedangkan aku tidak memiliki saudara di sana. Namun dengan niat basmallah, aku berani diri bersama seorang temanku untuk pergi ke Bali menggunakan sepeda motor sebagai moda transportasinya. Sampai di Bali, aku sempat bingung harus tinggal di mana, namun setelah berpikir beberapa saat aku teringat bahwa aku memiliki seorang teman SMA dulu yang sedang berada di Bali. Setahuku dia sedang melakukan serangkaian tes masuk TNI AU, dan di sana dia tinggal bersama Om nya. Saat itu juga aku putuskan untuk menghubunginya, dan singkat cerita kami dapat bertemu dengan temanku tersebut dan keluarga dari Omnya temanku.
Alhamdulillah, pertemuanku dengan temanku beserta keluarga Omnya memberikan hikmah tersendiri bagiku. Karena pada saat aku datang, istri dari Om temanku tersebut sedang sakit, dan secara kebetulan aku membawa semacam obat yang bisa membantu menyembuhkan penyakit yang dideritanya, dan aku lagi-lagi mengucapkan syukur Alhamdulillah karena obat yang aku bawa tersebut dapat memberikan kesembuhan berkat izin Allah.
Dengan perjalanan yang aku lakukan itu, aku mendapatkan hikmah dapat membantu keluarga temanku yang sedang sakit, dan hubungan silaturahmi itu terus berjalan hingga kini, bahkan saat keluarga temanku tersebut pindah ke Jakarta hubungan silaturahmi di antara kami berjalan dengan baik.
Rabu, 06 Januari 2010
aku dan travelling: sebuah mimpi menjadi menteri pariwisata
keyword: Bali, TNI AU, travelling
Ditulis oleh Rizki Kuncoro Hadi 0 komentar
Goes to Lampung
Di hari ketiga perjalanan ini, Kamis, 24 Desember 2009 aku akan melanjutkan perjalanan menuju Bandar Lampung. H-1 sebelum Natal, aku khawatir di jalan macet. Hah, yang penting jalan dulu. Sekitar jam 7.30 aku berangkat dari kediaman mb Oda. Untuk tiba di merak, aku berpatokan harus melewati jalan arah kali deres, tangerang, serang, dan cilegon. Satu jam pertama perjalanan masih lancar, namun satu jam kemudian aku kebingungan mencari jalan ke luar Jakarta menuju Tangerang. Sempat muter-muter setengah jam sebelum akhirnya ku temukan jalan keluar Jakarta.
Selanjutnya perjalanan kembali lancar, namun setelah itu aku harus dua kali muter di jalan seputaran Tangerang. Aku masih sabar untuk melanjutkan perjalanan. Hingga akhirnya aku harus kembali kebingungan mencari jalan keluar dari Tangerang. Bayangin aja selama sekitar 2 jam aku berjalan ke arah yang penuh dengan ketidakpastian. Melewati pinggir pantai (rupanya utara Tangerang), melewati Bandara Soekarno Hatta, bahwan melewati jalan desa yang sepi kendaraan. Aku hampir putus asa, siang itu, mana panas, kepala pusing, hwaahhhh…. Yaa Tuhan, tolong aku… begitu teriakku yang aku yakin tak ada orang yang mendengar teriakanku itu. Walaupun demikian aku masih bisa bersabar, aku yakin Allah pasti akan menunjukkan kepadaku jalan yang benar. Alhamdulillah Yaa Rabb, akhirnya aku menemukan jalan tembus ke jalan besar di wilayah Balaraja. Dari situ perjalananku hingga pelabuhan Merak lancar. Aku tiba di pelabuhan merak pukul 16.30. Naik kapal ferry, aku lupa nama kapalnya. Sore ini kapal begitu sepi, tidak ada penumpang pejalan kaki, yang ada hanya penumpang yang membawa kendaraan. Aku termasuk dong, aku kan bawa si Vega. Setelah memarkir motor di dek bawah, aku naik ke dek atas untuk mencari tempat duduk. Di atas aku langsung mencari tempat yang pewe untuk tidur. Rasanya cuapek buanget, apalagi inget kejadian tadi siang. Hufff, aku langsung tidur sampe keringetan tubuhku. Bangun tidur, tidur lagi, itulah yang kulakukan sampai beberapa kali untuk memastikan apakah sudah tiba di Bakau apa belum. Jam 19.30, menara Siger sudah terlihat dengan jelas. Kapal segera merapat! Tepat jam 20.00 aku bersama Vega keluar dari kapal yang bermuatan kendaraan pribadi dan truk pengangkut barang-barang.
Lampung, I’m coming….
Subhanallah wal hamdulillah, aku sudah sampai di Pulau Sumatera, tepatnya di propinsi Lampung. Setelah lama tidak pulang, aku merasakan ada yang berbeda sepanjang perjalanan dari Bakau menuju rumah. 2 kata untuk Lampung, jalannya bagus. Yuph, selama aku melintasi jalan dari Bakau hingga rumah jalannya sudah mulus, sehingga aku dapat menggeber Vega dengan kecepatan tinggi namun tetap dalam kontrol, hingga aku dapat menempuh perjalanan sepanjang 97 km itu selama 1 jam 20 menit. Padahal ini sudah malam lho… Jarak pandangku kalau sudah malam tidak begitu jauh, namun aku bisa menjangkaunya karena didukung dengan jalan yang sudah bagus. Salut tuk Lampung.
Alhamdulillah aku tiba di rumah sekitar pukul 21.30. Aku disambut oleh bapak dan ibu yang sudah menunggu aku, bahkan dari tadi sudah menelpon aku, namun tidak aku jawab karena aku sedang membawa Vega. Sebelumnya bapak memprediksi aku akan tiba di rumah sekitar pukul 23, kalo ibu memprediksi aku tiba di rumah pukul 22. Dua-duanya tidak ada yang tepat, namun ibu mendekati benar prediksinya.
Selain di sambut oleh pelukan sayang ibuku, aku juga disambut oleh seporsi sate yang sengaja dibeli bapak untukku. Malam itu aku menikmati sekali bisa tiba di rumah dengan sehat wal afiat dan bisa bertemu dengan bapak, ibu, dan keluarga lain.
keyword: Lampung, menara siger, sumatera, Tangerang, vega
Ditulis oleh Rizki Kuncoro Hadi 0 komentar
From Bandung to Jakarta
Selasa, 22 Desember 2009 sekitar pukul 18.15 aku tiba di rumah kakakku di Marga Asih, Cimahi setelah melintasi jalanan yang padat di kota Bandung. Pada awalnya aku ragu bisa sampai di rumah kakakku, karena aku tidak begitu paham jalan di Bandung, namun setelah melihat peta dan dengan bantuan plang penunjuk arah akhirnya aku dapat tiba di rumah kakakku dengan waktu yang tidak lama. Memang tidak tersesat, namun yang terjadi hanya kelewatan jalan yang seharusnya berbelok ke kiri, aku masih jalan lurus terus di pasar Cimindi.
Rabu, 23 Desember 2009 pukul 7.40 saat tachometer menunjukkan angka 41623.0 myVega aku geber menuju Jakarta melintasi Puncak Bogor. Aku sengaja menuju Jakarta untuk bersilaturahmi terlebih dahulu bertemu dengan seorang temanku yang ada di Kampung Melayu dan orang yang telah ku anggap sebagai saudaraku yang tinggal di Komplek TNI AU Halim yang telah menerimaku saat aku touring untuk pertama kalinya ke Pulau Dewata tahun 2008.
Perjalanan kali ini aku nikmati hanya berdua dengan myVega, karena partnerku Satria telah kutinggalkan di ITB bersama kakaknya. Yah, perjalanan ini sangat mengasyikkan. Bagaimana tidak, perjalanan Bandung menuju Jakarta ini melintasi Cianjur, Puncak Bogor, Cibinong kemudian masuk Jakarta ke arah Kampung Melayu. Saat melintasi daerah Cipanas (sebelum Puncak dari arah Bandung) aku merasakan kedinginan yang sangat. Daerah ini berbukit-bukit dengan jalan yang berliku-liku menambah semangat aku untuk mempercepat laju si Vega. Di sini aku merasakan dingin yang sangat, jaket tebal plus pelindung dada yang kukenakan belum mampu menghindariku dari rasa dingin yang menyegarkan tubuh ini. Sepanjang perjalanan melintasi Cipanas ini, aku selalu memikirkan satu hal “Kenapa nama daerah Cipanas, tapi kok dingin sekali ya?”
Kalo di Cipanas, kesanku adalah suhu yang dingin, beda cerita saat aku melintasi kawasan Puncak. Di sini aku menikmati pemandangan yang Subhanallah indahnya. Dengan jalan yang menuruni bukit dan berliku-liku, membuat aku leluasa melihat pemandangan yang indah itu ke arah Bawah bukit ke arah kanan maupun kiri jalan. Pantas saja, kawasan puncak menjadi tempat wisata yang bisa dibuat saat akhir pekan bagi warga Jakarta dan sekitarnya untuk melepas penat setelah 5 hari bekerja dengan penuh persaingan.
Begitu Maha Besar-nya Allah yang telah menciptakan semua ini di Bumi Indonesia yang seharusnya menambah rasa syukur kita padaNya.
Saat keluar dari Bogor, aku menyempatkan untuk istirahat di Indomaret untuk beli minum. Siang itu jam sudah menunjukkan pukul 11.30. Waktu yang sudah cukup bagi matahari untuk membuat aku kepanasan. Air minum yang kuminum plus potongan roti sudah cukup membuatku segar dan semangat kembali untuk mencapai tujuan. Ketika ku buka HP, beberapa panggilan dengan nomor yang sama tak terjawab. Itu semua dari temanku yang sudah menungguku di tempat kerjanya di daerah Gudang Peluru, Jakarta Timur. Yah, emang aku harus tiba di sana kisaran jam 12-13 biar bisa ketemu. Setelah aku usahakan, upaya itu tidak berhasil, karena aku tiba di depan kantornya jam 13.30, mau gak mau, biar gak sia-sia, aku minta dia keluar aja. Ya alaupun sebentar sudah cukup bagiku untuk bersilaturahmi. Selanjutnya aku menuju Halim Perdanakusuma.
Perjalanan menuju Halim ini adalah perjalanan yang bodoh aku lakukan. Bagaimana tidak, sudah tau aku salah jalan, aku masih menggeber myVega dengan kecepatan stabil 80 km/jam. Sampe belasan kilometer aku tersadar kalo aku semakin jauh dari arah Halim. Akhirnya aku putar arah dan segera melesat munuju arah Halim. Cukup cepat aku bisa sampai Halim, sekitar pukul 14.30 aku sudah sampai di rumah mb Oda (suami dari om teman SMA-ku Arief).
Setelah itu, aku ngobrol dulu ama mb Oda, terus diajak makan siang ma mb oda yang udah disiapin “asisstant of house”. Mantab dah masakannya, laper sih sebenernya…
Gak lama setelah itu, aku langsung mandi terus tidur,zzzzzzzzz…….. bangun-bangun jam enam kurang lima gitu, hwaaa…. Belum sholat ashar, yaudah aku langsung wudhu dan sholat ashar dilanjut sholat maghrib setelah beberapa menit kemudian.
Malam ini, aku di ajak makan malam di luar bareng mb oda, mas hendro, dan nabila (anak mereka berdua). Kami menuju kawasan di daerah apa gitu, aku lupa, kemarin gak meratiin bener. Tapi yang jelas malem itu kami masuk rumah makan yang menyajikan masakan khas makasar. Ada Sop Konro, Konro Bakar, Coto Makasar, Es Pisang Ijo, sama Es Palu Butung. Aku pilih konro bakar. Agak lama menunggu, hidangan teh manis sudah disiapkan dahulu sebelum makanan pesanan datang. Beberapa menit kemudian, Konro Bakar datang juga, sama kaya iga bagar. Ajiiib nikmatnya konro bakar ditemeni ketupat plus kuah spesialnya. Aku tak sanggup untuk melanjutkan cerita ini karena akan mengingatkanku dan membuatku terasa lapar.
Setelah makan malam, kami langsung kembali ke rumah. Selanjutnya aku sholat isya’ dan tidur. Malam ini aku harus menyiapkan fisik agar perjalanan besok pagi menuju Lampung tidak ada masalah. ZZZZZZZzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz………………….
.jpg)