Rabu, 06 Januari 2010

From Bandung to Jakarta

Selasa, 22 Desember 2009 sekitar pukul 18.15 aku tiba di rumah kakakku di Marga Asih, Cimahi setelah melintasi jalanan yang padat di kota Bandung. Pada awalnya aku ragu bisa sampai di rumah kakakku, karena aku tidak begitu paham jalan di Bandung, namun setelah melihat peta dan dengan bantuan plang penunjuk arah akhirnya aku dapat tiba di rumah kakakku dengan waktu yang tidak lama. Memang tidak tersesat, namun yang terjadi hanya kelewatan jalan yang seharusnya berbelok ke kiri, aku masih jalan lurus terus di pasar Cimindi.

Rabu, 23 Desember 2009 pukul 7.40 saat tachometer menunjukkan angka 41623.0 myVega aku geber menuju Jakarta melintasi Puncak Bogor. Aku sengaja menuju Jakarta untuk bersilaturahmi terlebih dahulu bertemu dengan seorang temanku yang ada di Kampung Melayu dan orang yang telah ku anggap sebagai saudaraku yang tinggal di Komplek TNI AU Halim yang telah menerimaku saat aku touring untuk pertama kalinya ke Pulau Dewata tahun 2008.

Perjalanan kali ini aku nikmati hanya berdua dengan myVega, karena partnerku Satria telah kutinggalkan di ITB bersama kakaknya. Yah, perjalanan ini sangat mengasyikkan. Bagaimana tidak, perjalanan Bandung menuju Jakarta ini melintasi Cianjur, Puncak Bogor, Cibinong kemudian masuk Jakarta ke arah Kampung Melayu. Saat melintasi daerah Cipanas (sebelum Puncak dari arah Bandung) aku merasakan kedinginan yang sangat. Daerah ini berbukit-bukit dengan jalan yang berliku-liku menambah semangat aku untuk mempercepat laju si Vega. Di sini aku merasakan dingin yang sangat, jaket tebal plus pelindung dada yang kukenakan belum mampu menghindariku dari rasa dingin yang menyegarkan tubuh ini. Sepanjang perjalanan melintasi Cipanas ini, aku selalu memikirkan satu hal “Kenapa nama daerah Cipanas, tapi kok dingin sekali ya?”

Kalo di Cipanas, kesanku adalah suhu yang dingin, beda cerita saat aku melintasi kawasan Puncak. Di sini aku menikmati pemandangan yang Subhanallah indahnya. Dengan jalan yang menuruni bukit dan berliku-liku, membuat aku leluasa melihat pemandangan yang indah itu ke arah Bawah bukit ke arah kanan maupun kiri jalan. Pantas saja, kawasan puncak menjadi tempat wisata yang bisa dibuat saat akhir pekan bagi warga Jakarta dan sekitarnya untuk melepas penat setelah 5 hari bekerja dengan penuh persaingan.

Begitu Maha Besar-nya Allah yang telah menciptakan semua ini di Bumi Indonesia yang seharusnya menambah rasa syukur kita padaNya.

Saat keluar dari Bogor, aku menyempatkan untuk istirahat di Indomaret untuk beli minum. Siang itu jam sudah menunjukkan pukul 11.30. Waktu yang sudah cukup bagi matahari untuk membuat aku kepanasan. Air minum yang kuminum plus potongan roti sudah cukup membuatku segar dan semangat kembali untuk mencapai tujuan. Ketika ku buka HP, beberapa panggilan dengan nomor yang sama tak terjawab. Itu semua dari temanku yang sudah menungguku di tempat kerjanya di daerah Gudang Peluru, Jakarta Timur. Yah, emang aku harus tiba di sana kisaran jam 12-13 biar bisa ketemu. Setelah aku usahakan, upaya itu tidak berhasil, karena aku tiba di depan kantornya jam 13.30, mau gak mau, biar gak sia-sia, aku minta dia keluar aja. Ya alaupun sebentar sudah cukup bagiku untuk bersilaturahmi. Selanjutnya aku menuju Halim Perdanakusuma.
Perjalanan menuju Halim ini adalah perjalanan yang bodoh aku lakukan. Bagaimana tidak, sudah tau aku salah jalan, aku masih menggeber myVega dengan kecepatan stabil 80 km/jam. Sampe belasan kilometer aku tersadar kalo aku semakin jauh dari arah Halim. Akhirnya aku putar arah dan segera melesat munuju arah Halim. Cukup cepat aku bisa sampai Halim, sekitar pukul 14.30 aku sudah sampai di rumah mb Oda (suami dari om teman SMA-ku Arief).

Setelah itu, aku ngobrol dulu ama mb Oda, terus diajak makan siang ma mb oda yang udah disiapin “asisstant of house”. Mantab dah masakannya, laper sih sebenernya…
Gak lama setelah itu, aku langsung mandi terus tidur,zzzzzzzzz…….. bangun-bangun jam enam kurang lima gitu, hwaaa…. Belum sholat ashar, yaudah aku langsung wudhu dan sholat ashar dilanjut sholat maghrib setelah beberapa menit kemudian.

Malam ini, aku di ajak makan malam di luar bareng mb oda, mas hendro, dan nabila (anak mereka berdua). Kami menuju kawasan di daerah apa gitu, aku lupa, kemarin gak meratiin bener. Tapi yang jelas malem itu kami masuk rumah makan yang menyajikan masakan khas makasar. Ada Sop Konro, Konro Bakar, Coto Makasar, Es Pisang Ijo, sama Es Palu Butung. Aku pilih konro bakar. Agak lama menunggu, hidangan teh manis sudah disiapkan dahulu sebelum makanan pesanan datang. Beberapa menit kemudian, Konro Bakar datang juga, sama kaya iga bagar. Ajiiib nikmatnya konro bakar ditemeni ketupat plus kuah spesialnya. Aku tak sanggup untuk melanjutkan cerita ini karena akan mengingatkanku dan membuatku terasa lapar.

Setelah makan malam, kami langsung kembali ke rumah. Selanjutnya aku sholat isya’ dan tidur. Malam ini aku harus menyiapkan fisik agar perjalanan besok pagi menuju Lampung tidak ada masalah. ZZZZZZZzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz………………….

0 komentar:


Blogger Templates by Isnaini Dot Com. Powered by Blogger and Supported by Lincah.Com - Nissan Cars