Bermodal pengalaman touring ke Purwokerto (2007), Malang, Surabaya, Bali (2008), Bali, Lombok (2009) serta lebih dari 40.000 km jarak tempuh yang kulalui bersama my Vega. Hari ini (Selasa, 22 Desember 2009) kuberanikan diri tuk touring ke Lampung via Bandung dan Jakarta.
Perjalanan dimulai dari persiapan sehari sebelum keberangkatan. Setelah beberapa hari mencari partner untuk menjadi navigator, akhirnya kuberangkat bersama Satria (partner touring ke Lombok). Yah, malem selasa aku baru bisa packaging barang bawaan, namun sejak beberapa hari terakhir aku telah mempersiapkan segalanya, terutama si Vega yang sudah di-service, ganti oli, ganti ban, ganti kampas rem, dll. Malem selasa Satria pun bertandang ke kamarku, biar keberangkatan di esok harinya (hari ini-pen) bisa berjalanan tanpa hambatan atau harus menjemput dulu. So, tepat pukul 05.15 kami berdua berangkat dari Markaz Dafa. Baru jalan keluar besar, aku ingat kalo belum pakai pelindung dada, segera kami kembali ke Dafa untuk mengambil pelindung dadaku yang tergantung di balik pintu.
Speedometer menunjukan angka 41180,0 km. Sepanjang perjalanan ini tidak ada hambatan yang berarti. Sekitar pukul 8, saat melintasi daerah kebumen, aku merasakan mata yang tidak bersahabat alias ngantuk, untung saja motor masih bisa dikendalikan dengan aman. Sekitar pukul 10-an, kami istirahat sejenak di SPBU, lokasi aku lupa di mana. Yang jelas di SPBU ini ada semacam kursi panjang dari bambu yang sangat cocok untuk tiduran. Si Satria, langsung merebahkan badan di kursi itu, dan zzzz… tertidur sesaat. Aku sendiri, minum air mineral yang dibeli sebelumnya. Setelah itu, aku melanjutkan tuk menunaikan Sholat Dhuha. Alhamdulillah setelah selesai, aku membangunkan Satria… Wah rupanya, dia sudah memasuki alam bawah sadar dan telah bermimpi. Tapi, insyaAllah mimpi kering.
Saat melintasi daerah Ciamis, aku melihat ada Masjid Agung yang keren. Aku arahkan si Vega menuju tempat parkir. Waktu menunjukkan pukul 11.45, yaph tidak lama lagi zuhur. Kami istirahat untuk menunaikan sholat zuhur dan jamak Ashar. Sebelum mengambil air wudhu, kami menyempat diri untuk berfoto di depan Masjid Agung Ciamis ini. Arsitektur yang sangat bagus, dengan beberapa menara yang menjulang tinggi, dan kubah yang berbentuk setengah parabola menambah keindahan masjid ini. Sayangnya kami tidak bisa berlama-lama foto karena adzan telah berkumandang.
Singkat cerita, setelah menunaikan sholat aku merasakan ada yang tidak beres dengan perutku. Oiya, tadi pagi kan belum sarapan baru makan roti sobek doang. Aku mengajak Satria tuk mencari makan. Pada awalnya kami ingin makan di warteg, tapi aku berubah pikiran dan mencari makan di sekitar masjid. Jalan keluar gerbang masjid kita bisa menemui pedagang kaki lima yang menjajakan makanan. Di sini ada bakso, soto, kupat tahu, bubur ayam, dan aneka minuman. Setelah melewatinya, kami memilih makan di tempat yang menjual kupat tahu dan bubur ayam. Aku memilih menu bubur ayam dan ditemani segelas kopi susu, sedangkan Satria memilih menu kupat tahu dengan segelas es teh. Nikmatnya makan di saat perut lapar dan menyudahinya sebelum kenyang. Hidangan yang kunikmati harus mengeluarkan Rp 6.000,- sedangkan Satria harus membayar lebih mahal, Rp 7.500.
Perjalanan kami lanjutkan, kali ini kami melintasi daerah Majenang dan seterusnya. Trek di daerah ini sangat menantang. Jalan yang berliku-liku dan menanjak membuat aku harus waspada. Namun bermodal pengalaman sebelumnya baik melintasi daerah perbukitan di Bali, di Wonosari, di Banyumas membuatku serasa percaya diri dan mampu melintasi daerah ini dengan selamat dan tanpa hambatan. Hanya saja saku sempat kesal dengan bis dan truk yang jalannya ngeden (berat-pen) karena tidak kuat menahan beban mengeluarkan asap knalpot yang hitam pekat. Huaahh, aku paling sebel dengan hal ini. Tapi mau bagaimana lagi, ini resiko ketika sudah berada di jalan.
Tak terasa, sekitar pukul 14 kami telah memasuki kabupaten Bandung. Tepat azan Ashar berkumandang, kami tiba di Masjid Salman ITB. Segera Satria menghubungi abangnya yang sedang bekerja di kantor ITB, sedangkan aku menghubungi kakakku yang tinggal di Marga Asih. Namun, aku tidak mendapai jawaban dari kakakku, karena panggilan ku tidak dijawab, kali lagi tidur. Next, kami bertemu dengan abangnya Satria, setelah itu kami makan di Café sudut masjid Salman. Hmmm, ada menu yang membuat memoriku terbuka kembali. Ada Ayam Taliwang, yuph ini makanan khas Lombok – makanan yang aku makan saat kami berada di Lombok. Aku pilih menu ini ditemani kopi yang diblender gitu, aku lupa apa namanya.
Singkat cerita setelah makan, kami keluar dan menuju masjid Salman untuk pengambilan gambar (berfoto-pen). Sesaat keluar dari Café, aku melihat pandangan yang tidak mengenakkan. Aku melihat siswi SMA yang dengan nikmatnya mengebulkan asap rokok dari mulutnya di hadapan siswa yang mungkin pacarnya. Hmmm,,, apa gak kasian nih orang ama tubuhnya. Yaudah, aku dan Satria menuju dalam Masjid Salman. Masjid ini nampak mirip dengan Maskam UGM. Hanya saja arsitektur masjid ini berbeda dengan sentuhan kayu yang mendominasi interior masjid ini menambah nilai aestetika masjid ini. Tapi aku melihat masjid ini lebih kecil dibandingkan Maskam UGM. Namun, di luar masjid, aku melihat deretan sekretariat kegiatan rohani Islam yang beraneka ragam. Mulai dari kemuslimahan, kaderisasi, pengembangan ekonomi syariah, dll. Mereka memiliki ruangan tersendiri. Dahsyat memang, gimana gak hebat kerohanian Islamnya ya…
Aku kembali mencoba menghubungi kakakku, alhamdulillah kali ini dijawab. Ya, intinya aku harus segera ke rumah di Marga Asih saat ini juga, dan sendiri. Pada awalnya aku ingin minta dijemput, tapi suami kakakku sedang ke luar kota. Jadi aku harus ke rumah sendirian, jangan bilang ada Satria. Satria kan mau langsung ke kosan kakaknya. Akhirnya aku memberanikan diri menuju Marga Asih, aku lupa jalan dari ITB ke Marga Asih. Tapi aku memperhatikan plang penunjuk jalan yang sangat membantu. Akhirnya jam 17.50, aku sampai juga di rumah.
Saat ini, aku merasakan kenikmatan yang berbeda bila harus melewati perjalanan ini dengan naik bus atau kereta. Capek memang, jari-jari tangan yang keram, (maaf) pantat yang panas, kaki yang pegel, mata yang ngantuk. Tapi semua itu dapat kunikmati, karena nikmat bisa sampai di tempat tujuan dengan selamat. Besok pagi, perjalanan akan dilanjutkan menuju Bandar Lampung. Semoga baik-baik saja. Catatan ini akan bersambung…
Selasa, 22 Desember 2009
Catatan Lelah menuju Paris van Java
keyword: bandung, ITB, salman, travelling, vega
Ditulis oleh Rizki Kuncoro Hadi 0 komentar
Great Mother...
Bisa saya melihat bayi saya?"pinta seorang ibu yang baru melahirkan penuhkebahagiaan. Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayilelaki yang mungil itu, ibu itu menahan nafasnya. Dokter yangmenungguinya segera berbalik memandangke arah luar jendela rumah sakit. Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belahtelinga!
Waktu membuktikan bahwa pendengaranbayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya sajayang tampak aneh dan buruk. Suatu harianak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya dipelukan sang ibu yang menangis. Iatahu hidup anak lelakinya penuh dengankekecewaan dan tragedi. Anak lelaki ituterisak-isak berkata, "Seorang anaklaki-laki besar mengejekku. Katanya,aku ini makhluk aneh."
Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia cukup tampan dengan cacatnya. Ia pundisukai teman-teman sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya di bidangmusik dan menulis. Ia ingin sekali menjadi ketua kelas. Ibunyamengingatkan, "Bukankah nantinya kauakan bergaul dengan remaja-remajalain?" Namun dalam hati ibu merasa kasihan dengannya.
Suatu hari ayah anak lelaki itubertemu dengan seorang dokter yangbisa mencangkokkan telinga untuknya. "Saya percaya saya bisamemindahkan sepasang telinga untuknya.Tetapi harus ada seseorang yangbersedia mendonorkan telinganya," katadokter. Kemudian, orangtua anak lelakiitu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya pada mereka.
Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya, "Nak, seseorang yang tak ingin dikenaltelah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia." kata sang ayah.
Operasi berjalan dengan sukses.Seorang lelaki baru pun lahirlah.Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya.
Beberapa waktu kemudian ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat.Ia menemui ayahnya, "Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar namunaku sama sekali belum membalas kebaikannya. " Ayahnya menjawab, "Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu." Setelah terdiam sesaat ayahnyamelanjutkan, "Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini."
Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia.Hingga suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu. Dihari itu ayah dan anak lelaki itu berdiridi tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku itu, lalu menyibaknya sehingga tampaklah... bahwa sang ibu tidakmemiliki telinga.
"Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya,"bisik sang ayah. "Dan tak seorang punmenyadari bahwa ia telah kehilangansedikit kecantikannya bukan?"
Pahamilah kawan..
Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh,namun di dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namunpada apa yang tidak dapat terlihat.
*(KINI KITA TELAH DEWASA.HATI IBU MESTI DIJAGA.JANGAN JADI ANAK DURHAKA.KASIHNYA IBU MEMBAWA KE SYURGA.SELAMAT HARI IBU KAWAN.)*
keyword: hari ibu
Ditulis oleh Rizki Kuncoro Hadi 0 komentar
Hijrah
Hijrah terpenting adalah dari SYIRIK kepada TAUHIID
Dari menuhankan harta
Dari menuhankan jabatan, kedudukan, kekuasaan,
Dari menuhankan penampilan
Dari menuhankan pujian dan penghormatan, popularitas
Dari menuhankan manusia, pasangan hidup, orang tua, anak-anak,
Dari menuhankan nafsu, syahwat, amarah
Dari menuhankan diri sendiri
Dari menuhankan kesenangan duniawi
Dari menuhankan apapun selain Allah
Hijrahlah menjadi LAA ILAAHA ILALLAH
Tiada Tuhan Selain ALLAH
Selain Allah hanyalah makhluk ciptaan-NYA yang lemah tak berdaya tanpa kekuatan-NYA
Yang bodoh tanpa percikan ilmu-NYA
Yang miskin papa tanpa titipan-NYA
Yang tersesat tanpa Tuntunan-NYA
Yang berlumur dosa tanpa ampunan-NYA
Yang hina dina tanpa kemuliaan dari-NYA
Semua makhluk mutlak adalah Milik-NYA, Ciptaan-NYA, dalam Genggaman-NYA tak dapat memberi manfaat sedikitpun tanpa ijin-NYA
Tak kuasa memberi mudharat sekecil apapun tanpa ijin-NYA
Cukuplah ALLAH...
Cukuplah ALLAH...
Cukuplah ALLAH...
by Ust. Yusuf Mansur
Ditulis oleh Rizki Kuncoro Hadi 0 komentar
Rabu, 16 Desember 2009
Kosakata Bahasa Jawa
amargi = karena
aran = nama
arep = hendak
arso = akan
asma = nama
aturi = persilakan
awit = karena
banjur = lalu
dipun gatosaken = diperhatikan
dumugi = sampai
gadhah = memiliki
hangganjar = memberikan
kagungan = memiliki
kedah = haruskedah = harus
kejaba = selain/kecuali
kejawi = selain
kepareng = boleh
kukuban = wilayah
lumunturing = dimaafkan
mekaten = demikian
nyawisaken = menyediakan
pangaksami - maaf
pangestu = doa restu
panggakih = perasaan
punika = ini
samudayanipun = semuanya
sarehiring = seiring
wekdal = waktu
sugeng riyadi = selamat hari raya
surya = tanggal
wilujeng = selamat
Ditulis oleh Rizki Kuncoro Hadi 0 komentar
Belajar Bahasa Jawa # 6
SUNGKEMAN
Matur dhumateng bapak saha ibu, kaping sepindah kula sekeluarga wonten mriki badhe silaturahim. Kaping kaleh, kula badhe ngaturaken sugeng riyadi, mugi-mugi wonten ing dinten riyadi punika sedaya kalepatan kita sedaya saget lebur ing ngarsane Gusti Ingkang Maha Kuwaos.
Ugi kula nyuwun donga pangestunipun bapak saha ibu, mugi-mugi menapa-manapa ingka dumados panjangka kula sekeluarga saget karanggeh. Amin.
keyword: silaturahim, sugeng riyadi, sungkeman
Ditulis oleh Rizki Kuncoro Hadi 0 komentar
Selasa, 15 Desember 2009
Belajar Bahasa Jawa # 5
Ngayogyakarta, 19 November 2009
Assalaamu’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh
Ingkang sembah pangabekti kula katur
Panjenengan Bapak saha Ibu
Nuwun wiyosipun serat punika, kula nyaosi priksa bilih angsal berkah pangestunipun Bapak saha Ibu kula ginanjar wilujeng, pinaringan dening Gusti Allah Ingkang Maha Kuwaos bagus kuwarasan lan kawilujengan. Ingkang kula suwun ing ngriki semantena ugi.
Bu/pak, kula sampun dipunkintuni kabar saking mbak antik, menawi Indah badhe dados manten surya 4 Desember punika. Kula nggih disuwun sowan datheng Bandung,nyuwun pangapunten kula mboten saged sowan wonten Bandung. Amargi wekdal-wekdal punika kegiatan kula tambah katah, kuliah saha organisasi. Dinten jumat, surya 4 Desember benjang, kula wonten kuliah ingkang boten saged ditinggalaken.
Kula kiyambak nembe libur surya 20 Desember ngantos 3 Januari, dinten punika insyaAllah kula mantuk ing Lampung. Mugi-mugi boten wonten alangan.
Kula nuwun doa restu saking ibu saha bapak, mugi-mugi kula dipunparingi selamet saha kesabaran. Mugi-mugi, aktivitas ingkang kula tindakaken ing Ngayogyakarto punika saged dadose sangu kagem kula ing wekdal ingkang badhe dateng.
Oh nggih, bu/pak, sak punika kula nyinauni boso jawi kaleh adek tingkat ingkang saged boso jawi kromo inggil. Piyambakipun saking Kulon Progo. Mugi-mugi kula saged lancar ngginakaken boso jawi.
Bu/pak, sakmenten mawon serat saking kulo. Kula nyuwun seratipun dipunbales ngagem boso jawi ugi mawi sampun dipunwaos.
Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh
keyword: Bapak Ibu, jawi kromo, Ngayogyakarta, serat
Ditulis oleh Rizki Kuncoro Hadi 0 komentar
Belajar Bahasa Jawa # 4
Assalamu'alaikum Wr. Wb…
Dhumateng sedoyo wargo Nglaren ingkang dahat kinarmatan…
Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun…
Sampun katimbalan dhumateng ngarsanipun Gusti ingkang Moho Kuaos, almarhum Bapak Fulan bin Fulan tanggal kalih doso songo Oktober kaleh ewu songo tabuh sedoso wonten ing griyo sakit Sardjito. Almarhum badhe dipun sareaken dinten punika tabuh kaleh welas wonten ing sarean bulaksumur. Almarhum nilaraken garwo sekawan, putro selikur, wayah sedoso. Mugi-mugi almarhum dipun paringi pangapuran ugi amal ibadahipun dipun tampi dhumateng Gusti Allah.
Mugi-mugi keluwargo ingkang dipun tinggal tansah dipun paringi kesabaran ugi ketabahan.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
keyword: innalillah, lelayu
Ditulis oleh Rizki Kuncoro Hadi 0 komentar
Belajar Bahasa Jawa # 3
Setunggal ewu kuto
Setunggal ewu kuto sampun kula lampahi
Setunggal ewu manah kula tangkleti
namung sedoyo
sami boten pangertos
kesah panjenengan datheng pundi
pinten warso kula madosi
Sak puniko dereng saget nemuaken
sampun kula cobi
nglalekaken asma panjenengan
saking manah kula
sak jatosipun kula boten dora
kula tresno panjenengan
umpaminipun panjenengan sampun mulyo
ikhlas kula ikhlas
inggih namung setunggal dados panyuwun kula
kulo badhe ketemu
sanajan sak kedepipun soca
kagem tombo kangen wonten lebeting manah
keyword: didi kempot, setunggal ewu, sewu kuto
Ditulis oleh Rizki Kuncoro Hadi 0 komentar
Belajar Bahasa Jawa # 2
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Ingkang kinabekten bapak ibu, tuwin para lenggah sedaya…
Langkung rumiyin sumanggo kula Panjenengan ngunjukaken puja puji ngarsanipun Gusti Allah. Inggih awit sih nugraha sarta brekahipun, kula panjenengan saged pinanggih ing papan menika kanthi bagya mulya kalis ing sambikala.
Sholawat ugi salam tansah kito ngaturaken dhumateng Nabi Muhammad SAW ingkang sampun beto kito saking jaman kegelapan minuju jaman terang benderang.
Wonten ing wekdal punika, kulo badhe ngaturaken matur nuwun awit saking kerawuhan bapak ibu wonten acara punika. Boten kesupen kulo ngaturaken agunging pangapunten awit saking sedoyo kekirangan anggenipun ngaturaken lenggahan ugi dedaharan ingkang kirang mranani panggalih panjenengan sami.
Mugi-mugi bapak ibu saged ngelampahi dumugi pungkasaning adicara.
Matur nuwun awit saking kawigatosan panjenengan sami, namung kemawon menawi anggenipun kulo ngaturaken saklimah atur wonten katah kekirangan kulo nyuwun lumunturing sih pangaksami.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
Ditulis oleh Rizki Kuncoro Hadi 0 komentar
Belajar Bahasa Jawa # 1
Wau enjing, kula tindak dateng griyo Pak Rizki. Ananging kula mboten kepanggih Pak Rizki namung kepanggih bu Dhany
Kun : Kulo nuwun!
Bu Dhany : Monggo, pinarak riyen Mas, badhe kepanggih sinten?
Kun : Kulo badhe kepanggih Pak Rizki. Pak Rizki wonten bu?
Bu Dhany : Pak Rizki ne wonten, wonten perlu menopo? Nembe sholat.
Kun : Kulo badhe matur babagan bisnis bu.
Bu Dhany : Monggo dipun tenggo rumiyen.
Kun : Nggih bu.
Gangsal menit saklajengipun, Pak Rizki medal saking kamar.
Pak Rizki : Oh, mas Kun. Mpun dangu ngentosi?
Kun : mboten kok Pak.
Pak Rizki :Pripun mas Kun?
Kun : Niki pak, kulo betahaken kajeng jatos, panjenengan saget nyediaaken?
Pak Rizki : Nyuwun Pangapunten mas rizki, sak niki kulo mboten saget nyediaken kayu jati ne. Soale, stok teng mriki mpun telas.
Kun : Oh ngoten tho Pak, Mboten nopo-nopo pak. Menopo panjenengan kagungan kerabat ingkang saget nyawisaken kajeng jatos?
Pak Rizki : Nggih, sampeyan hubungi Pak Karno mawon, niki nomer hapene 08123456789.
Kun : Matur nuwun sanget nggih pak. Kulo wangsul riyen, mangkih kulo cobi hubungi Pak Karno. Assalamu’alaikum…
keyword: maturaken
Ditulis oleh Rizki Kuncoro Hadi 0 komentar
.jpg)