Rabu, 12 Agustus 2009

Catatan kecil perjalanan menuju Lombok


Gak kebayang Liburan semester kali ini bisa single touring dengan mengendai sepeda motor Vega-R yang telah setia menemaniku selama 3 tahun terakhir. Berangkat bersama teman kuliahku, Satria kisah petualangan ini dimulai. Petualangan ini dimulai pada hari Ahad, 5 Juli 2009 dan berakhir hari Senin, 13 Juli 2009. Dengan dana yang pas-pasan kami memberanikan diri menuju Pulau Lombok, pulau yang asing bagi kami berdua yang notaben berasal dari Sumatera, karena sebelumnya kami belum pernah menginjakkan kaki di Pulau ini. Sebelum melakukan perjalanan ini kami melakukan berbagai persiapan di antaranya membeli Peta Pulau Bali, Peta Pulau Lombok, Buku “Aku ke Bali”, men-servis motor, dan mencari informasi mengenai kondisi Bali dan Lombok kepada teman-teman maupun searching di internet.

Berikut ini jurnal perjalanan kami dari mulai berangkat hingga kembali ke Jogja.

Hari pertama, Ahad 5 Juli 2009
Jogja - Surabaya

05.10 WIB. Sesaat setelah solat subuh berjamaah di Masjid Al-Hanaan, Asrama Darul Falah, dimana aku tinggal, kami memulai perjalanan menuju Surabaya (rumah Om ku). Saat memulai perjalanan tachometer menunjukkan angka 33.681,4 km, aku yang mengendarai dan Satria yang membonceng. Jalur yang kami tempuh melalui kota Solo-Madiun-Nganjuk-Jombang-Mojokerto. Aku mengendarai sepeda motor dengan kecepatan rata-rata 80 km/jam.

09.25 WIB. Mampir ke Warung makan di daerah Madiun, aku mencoba menikmati makanan khas Kota Madiun yaitu Nasi Pecel Madiun ditemani segelas teh hangat. Uang yang kami keluarkan untuk bisa menikmati semuanya adalah Rp 16.000,- (lumayan mahal, karena porsinya sedikit tapi lumayanlah untuk ganjal perut).

11.45 WIB. Kami tiba di rumah Om ku di Komplek Peradilan Militer Surabaya yang terletak tidak jauh dari terminal Bungur Asih. Selama perjalanan ini kami mengisi bensin 3x (Rp 10.000, Rp 12.000, Rp 12.000) dengan menempuh jarak 510,2 km yang artinya setiap 1 liter bensin dapat menempuh sekitar 67 km.

19.00 WIB. Sholat Isya berjamaah di Masjid Al-Akbar Surabaya/MAS (Masjid terbesar di Kota Surabaya) yang terletak tidak jauh dari rumah Om ku, sekitar 3 km. Masjid ini masih cukup baru, sehingga tampak begitu bersih dan indah dengan Kubah masjid yang cukup besar. Setelah sholat kami menikmati salah satu kuliner khas Surabaya Lontong Balap. Mantap Jaya rasanya rek, hanya dengan Rp 10.000 untuk 2 porsi sudah cukup membuat perut kami kenyang. Selanjutnya kami menuju Carrefour yang tidak jauh dari MAS untuk membeli logistik kami selama perjalanan menuju Lombok. Logistik yang kami beli di antaranya mie instan, telur, roti, mentega, air minum, kopi instan. Oiya, jangan bingung kami akan masak pakai apa, karena dari Jogja kami bawa kompor gas portable dan sebuah teplon. Perlengkapan gelas, piring dan sendok kami bawa dari Surabaya. Total uang yang kami keluarkan untuk membeli seluruh logistik sebesar Rp 49.000.

15.00 WITA. Gili Trawangan, aq sudah tak tahan ingin menginjakkan kakiku di pulaumu. Perjalanan ke Gili Trawangan menghabiskan waktu yang cukup lama sekitar 50 menit. Selama perjalanan di boat, aq selalu menundukkan kepala karena tak tahan akan rasa mual yang menderita perutku akibat gelombang laut yang cukup besar hingga membuat perutku terkoyak-koyak ingin muntah.

Cerita lain di selama di boat adalah perasaan maluku saat boat mendekati sebuah pulau. Aku yakini pulau inilah yang namanya Gili Trawangan. Dengan keyakinan tak berdasar itu, ketika aku ditanya oleh bule yang intinya nanya apa ini Gili Trawangan, dengen pe-de aku jawab, yes this is GIli Trawangan. Saat sama-sama mau turun, kami ditanya oleh ABK mau turun dimana? saat aku jawab mau turun di Gili Trawangan, ABK mencegah kami, "ini Gili Meno bukan Gili Trawangan", jawabnya... Haah aku jadi malu sama si bule.... Yaudah setelah menurunkan beberapa penumpang di Gili Meno, boat melanjutkan perjalanan yang sesungguhnya ke Gili Trawangan.

15.50 WITA. Alhamdulillah sampe juga ke Gili Trawangan. Satu kata untuk Gili Trawangan, Subhanallah… Yuph, pemandangan yang eksotik dengan hamparan pantai yang dipenuhi oleh resort-resort membuat pulau ini dipenuhi oleh turis asing. Selama perjalanan ini, aku hanya menjumpai turis local. Selebihnya turis asing.

16.00 WITA. Aku menjadi bimbang ketika ada ABK yang menawarkan boat menuju Bangsal. Niat diawal, kami tidak ingin bermalam di Gili Trawangan, tepat jam 16 ini adalah boat terakhir yang menuju Bangsal, selanjutnya akan dilayani esok hari. Jiaaah, balik atau bermalam? Pilihan yang harus dipilih. AKhirnya kami nekat untuk tetap berada di Gili Trawangan dengan kondisi yang memprihatinkan. Bagaimana tidak, perbekalan tidak kami bawa semua karena yang lainnya kami tinggal di Bangsal. Tapi kami yakin bisa bertahan hidup di sini.

Setelah itu, aku hanya bisa tiduran menahan rasa mual diperutku yang belum hilang. Aku terpaksa pake sweaternya Satria coz jaket aku tinggal di motor yang ada di Bangsal. Huaaaahhhh,, dingen banget anginnya. Semilir angin yang membuat khayalanku semakin dalam. ZZZzzzzzzzz………

17.00 WITA. Sholat Ashar di jamak dengan sholat zuhur yang belum terlaksana di Ticket Office. Segerrrr rasanya setelah sholat. Dan kini saatnya menyusuri pantai Gili Trawangan.
Kanan jalan resort, café, bungalow, hotel, kiri jalan pantai, tengah jalan bule-bule yang sedang menikmati kesunyian Gili Trawangan.

19.00 WITA. Bingung mau tidur dimana? Di bungalow pasti mahal, gak ada duit. Cari musola gak tau tempatnya, yaudah kembali ke Ticket Office aja. Di sini aku masih melihat tukang bakso yang belum pergi, yang dari tadi membuatku ngiler. Aku suruh Satria tuk nanya berapa harganya, dan harganya Rp 10.000 per mangkok, haaahhh bisa gak nyampe jogja nieh kalo buat makan bakso. Terpaksa iler yang sudah keluar menetes ke tanah (lebay).

Nasib kami berdua yang harus meng-gembel membuat kami bingung, gimana enggak bingung, mau tetep bertahan disini anginnya dingin buanget, tembus ke dalam tubuh. Yang kami pikirkan adalah tidur dimana dan kapan? Kalo mau tidur sekarang pastilah kami di sangka orang gila, jadi kami berfikir untuk tidur setelah bule-bule pada tidur alias menunggu pulau ini sepi dari peradaban karena penghuninya pada tidur, tapi harus nunggu jam berapa?

Kesedihan kami rupanya dialami pula oleh 2 ekor kucing yang berapa di depan kami. Kucing-kucing ini Nampak mengalami nasib yang serupa dengan kami karena tidak mendapat tempat untuk berlindung dari dinginnya malam di Gili Trawangan. AKu jadi merasa tidak kesepian bisa melihat kucing itu menjadi bagian dari kami juga.

22.00 WITA. Kami dihampiri oleh petugas jaga Pulau ini, yah awalnya aku takut aja. Tapi rupanya orang ini mengajak kami ngobrol hingga cerita sampe ke Solo. Rupanya di Solo bapak ini yang aku taksir umurnya sekitar 35-an punya WIL (Wanita Idaman Lain) selain istrinya yang asli Lombok. Yaah gak perlu aku ceritakan disini. Yang pasti gembira menyelimuti kami ketika bapak ini mendengar cerita memelas kami karena gak ada tempat berlindung di pulau ini. Dan akhirnya yang kami tunggu-tunggu datang juga, bapak ini menyuruh kami untuk tidur di dalam Ticket Office. Alhamdulillah Yaa Allah, pertolonganMu datang…

23.00 WITA. Akhirnya kami bisa beristirahat di dalam Ticket Office. Di dalam ruangan yang tidak begitu besar ini kami masih mendengar gemuruh angin yang sangat kencang dari luar ruangan. Aku hanya dapat berkata, Masya Allah apa jadinyaa jika kami tidur di luar ruangan ini? Bisa jadi kami mati kedinginan. Tapi pertolonganMu yang kunanti telah datang sehingga menambah rasa syukurku padaMu.

Nikmat yang Allah berikan tidak berhenti saat kami mendapati ruangan ini untuk beristirahat tetapi juga saat bapak tadi member kami nasi bungkus khas Lombok yang puedes. Ya apapun itu harus ku syukuri.

Setelah makan aku masih menyempatkan untuk berhubungan dengan dunia luar melalui update status facebook-ku. Aku membaca status temen-temen nun jauh di Jogja.

24.00 WITA. ZZZZzzzzzzz……….. suara apa tuh.
Udah dulu ya, ini masih bersambung, aku mau bobo dulu




Blogger Templates by Isnaini Dot Com. Powered by Blogger and Supported by Lincah.Com - Nissan Cars