Selasa, 22 Desember 2009

Catatan Lelah menuju Paris van Java

Bermodal pengalaman touring ke Purwokerto (2007), Malang, Surabaya, Bali (2008), Bali, Lombok (2009) serta lebih dari 40.000 km jarak tempuh yang kulalui bersama my Vega. Hari ini (Selasa, 22 Desember 2009) kuberanikan diri tuk touring ke Lampung via Bandung dan Jakarta.

Perjalanan dimulai dari persiapan sehari sebelum keberangkatan. Setelah beberapa hari mencari partner untuk menjadi navigator, akhirnya kuberangkat bersama Satria (partner touring ke Lombok). Yah, malem selasa aku baru bisa packaging barang bawaan, namun sejak beberapa hari terakhir aku telah mempersiapkan segalanya, terutama si Vega yang sudah di-service, ganti oli, ganti ban, ganti kampas rem, dll. Malem selasa Satria pun bertandang ke kamarku, biar keberangkatan di esok harinya (hari ini-pen) bisa berjalanan tanpa hambatan atau harus menjemput dulu. So, tepat pukul 05.15 kami berdua berangkat dari Markaz Dafa. Baru jalan keluar besar, aku ingat kalo belum pakai pelindung dada, segera kami kembali ke Dafa untuk mengambil pelindung dadaku yang tergantung di balik pintu.

Speedometer menunjukan angka 41180,0 km. Sepanjang perjalanan ini tidak ada hambatan yang berarti. Sekitar pukul 8, saat melintasi daerah kebumen, aku merasakan mata yang tidak bersahabat alias ngantuk, untung saja motor masih bisa dikendalikan dengan aman. Sekitar pukul 10-an, kami istirahat sejenak di SPBU, lokasi aku lupa di mana. Yang jelas di SPBU ini ada semacam kursi panjang dari bambu yang sangat cocok untuk tiduran. Si Satria, langsung merebahkan badan di kursi itu, dan zzzz… tertidur sesaat. Aku sendiri, minum air mineral yang dibeli sebelumnya. Setelah itu, aku melanjutkan tuk menunaikan Sholat Dhuha. Alhamdulillah setelah selesai, aku membangunkan Satria… Wah rupanya, dia sudah memasuki alam bawah sadar dan telah bermimpi. Tapi, insyaAllah mimpi kering.

Saat melintasi daerah Ciamis, aku melihat ada Masjid Agung yang keren. Aku arahkan si Vega menuju tempat parkir. Waktu menunjukkan pukul 11.45, yaph tidak lama lagi zuhur. Kami istirahat untuk menunaikan sholat zuhur dan jamak Ashar. Sebelum mengambil air wudhu, kami menyempat diri untuk berfoto di depan Masjid Agung Ciamis ini. Arsitektur yang sangat bagus, dengan beberapa menara yang menjulang tinggi, dan kubah yang berbentuk setengah parabola menambah keindahan masjid ini. Sayangnya kami tidak bisa berlama-lama foto karena adzan telah berkumandang.

Singkat cerita, setelah menunaikan sholat aku merasakan ada yang tidak beres dengan perutku. Oiya, tadi pagi kan belum sarapan baru makan roti sobek doang. Aku mengajak Satria tuk mencari makan. Pada awalnya kami ingin makan di warteg, tapi aku berubah pikiran dan mencari makan di sekitar masjid. Jalan keluar gerbang masjid kita bisa menemui pedagang kaki lima yang menjajakan makanan. Di sini ada bakso, soto, kupat tahu, bubur ayam, dan aneka minuman. Setelah melewatinya, kami memilih makan di tempat yang menjual kupat tahu dan bubur ayam. Aku memilih menu bubur ayam dan ditemani segelas kopi susu, sedangkan Satria memilih menu kupat tahu dengan segelas es teh. Nikmatnya makan di saat perut lapar dan menyudahinya sebelum kenyang. Hidangan yang kunikmati harus mengeluarkan Rp 6.000,- sedangkan Satria harus membayar lebih mahal, Rp 7.500.

Perjalanan kami lanjutkan, kali ini kami melintasi daerah Majenang dan seterusnya. Trek di daerah ini sangat menantang. Jalan yang berliku-liku dan menanjak membuat aku harus waspada. Namun bermodal pengalaman sebelumnya baik melintasi daerah perbukitan di Bali, di Wonosari, di Banyumas membuatku serasa percaya diri dan mampu melintasi daerah ini dengan selamat dan tanpa hambatan. Hanya saja saku sempat kesal dengan bis dan truk yang jalannya ngeden (berat-pen) karena tidak kuat menahan beban mengeluarkan asap knalpot yang hitam pekat. Huaahh, aku paling sebel dengan hal ini. Tapi mau bagaimana lagi, ini resiko ketika sudah berada di jalan.

Tak terasa, sekitar pukul 14 kami telah memasuki kabupaten Bandung. Tepat azan Ashar berkumandang, kami tiba di Masjid Salman ITB. Segera Satria menghubungi abangnya yang sedang bekerja di kantor ITB, sedangkan aku menghubungi kakakku yang tinggal di Marga Asih. Namun, aku tidak mendapai jawaban dari kakakku, karena panggilan ku tidak dijawab, kali lagi tidur. Next, kami bertemu dengan abangnya Satria, setelah itu kami makan di Café sudut masjid Salman. Hmmm, ada menu yang membuat memoriku terbuka kembali. Ada Ayam Taliwang, yuph ini makanan khas Lombok – makanan yang aku makan saat kami berada di Lombok. Aku pilih menu ini ditemani kopi yang diblender gitu, aku lupa apa namanya.

Singkat cerita setelah makan, kami keluar dan menuju masjid Salman untuk pengambilan gambar (berfoto-pen). Sesaat keluar dari Café, aku melihat pandangan yang tidak mengenakkan. Aku melihat siswi SMA yang dengan nikmatnya mengebulkan asap rokok dari mulutnya di hadapan siswa yang mungkin pacarnya. Hmmm,,, apa gak kasian nih orang ama tubuhnya. Yaudah, aku dan Satria menuju dalam Masjid Salman. Masjid ini nampak mirip dengan Maskam UGM. Hanya saja arsitektur masjid ini berbeda dengan sentuhan kayu yang mendominasi interior masjid ini menambah nilai aestetika masjid ini. Tapi aku melihat masjid ini lebih kecil dibandingkan Maskam UGM. Namun, di luar masjid, aku melihat deretan sekretariat kegiatan rohani Islam yang beraneka ragam. Mulai dari kemuslimahan, kaderisasi, pengembangan ekonomi syariah, dll. Mereka memiliki ruangan tersendiri. Dahsyat memang, gimana gak hebat kerohanian Islamnya ya…

Aku kembali mencoba menghubungi kakakku, alhamdulillah kali ini dijawab. Ya, intinya aku harus segera ke rumah di Marga Asih saat ini juga, dan sendiri. Pada awalnya aku ingin minta dijemput, tapi suami kakakku sedang ke luar kota. Jadi aku harus ke rumah sendirian, jangan bilang ada Satria. Satria kan mau langsung ke kosan kakaknya. Akhirnya aku memberanikan diri menuju Marga Asih, aku lupa jalan dari ITB ke Marga Asih. Tapi aku memperhatikan plang penunjuk jalan yang sangat membantu. Akhirnya jam 17.50, aku sampai juga di rumah.

Saat ini, aku merasakan kenikmatan yang berbeda bila harus melewati perjalanan ini dengan naik bus atau kereta. Capek memang, jari-jari tangan yang keram, (maaf) pantat yang panas, kaki yang pegel, mata yang ngantuk. Tapi semua itu dapat kunikmati, karena nikmat bisa sampai di tempat tujuan dengan selamat. Besok pagi, perjalanan akan dilanjutkan menuju Bandar Lampung. Semoga baik-baik saja. Catatan ini akan bersambung…

0 komentar:


Blogger Templates by Isnaini Dot Com. Powered by Blogger and Supported by Lincah.Com - Nissan Cars