Sejak dua tahun belakangan ini aku memiliki hobi baru yakni travelling. Travelling yang aku lakukan adalah menggunakan sepeda motor menjelajahi daerah-daerah yang sama sekali aku belum pernah melewatinya. Suatu ketika di tahun 2008, saat minggu-minggu ujian aku memiliki waktu senggang di antara padatnya jadwal ujian selama satu pekan. Beberapa hari sebelumnya aku telah berpikir untuk bisa memanfaatkan waktu senggang tersebut untuk melakukan perjalanan ke Bali.
Pada awalnya, aku tidak tahu bagaimana bisa bertahan hidup di Bali, sedangkan aku tidak memiliki saudara di sana. Namun dengan niat basmallah, aku berani diri bersama seorang temanku untuk pergi ke Bali menggunakan sepeda motor sebagai moda transportasinya. Sampai di Bali, aku sempat bingung harus tinggal di mana, namun setelah berpikir beberapa saat aku teringat bahwa aku memiliki seorang teman SMA dulu yang sedang berada di Bali. Setahuku dia sedang melakukan serangkaian tes masuk TNI AU, dan di sana dia tinggal bersama Om nya. Saat itu juga aku putuskan untuk menghubunginya, dan singkat cerita kami dapat bertemu dengan temanku tersebut dan keluarga dari Omnya temanku.
Alhamdulillah, pertemuanku dengan temanku beserta keluarga Omnya memberikan hikmah tersendiri bagiku. Karena pada saat aku datang, istri dari Om temanku tersebut sedang sakit, dan secara kebetulan aku membawa semacam obat yang bisa membantu menyembuhkan penyakit yang dideritanya, dan aku lagi-lagi mengucapkan syukur Alhamdulillah karena obat yang aku bawa tersebut dapat memberikan kesembuhan berkat izin Allah.
Dengan perjalanan yang aku lakukan itu, aku mendapatkan hikmah dapat membantu keluarga temanku yang sedang sakit, dan hubungan silaturahmi itu terus berjalan hingga kini, bahkan saat keluarga temanku tersebut pindah ke Jakarta hubungan silaturahmi di antara kami berjalan dengan baik.
Rabu, 06 Januari 2010
aku dan travelling: sebuah mimpi menjadi menteri pariwisata
keyword: Bali, TNI AU, travelling
Ditulis oleh Rizki Kuncoro Hadi 0 komentar
Goes to Lampung
Di hari ketiga perjalanan ini, Kamis, 24 Desember 2009 aku akan melanjutkan perjalanan menuju Bandar Lampung. H-1 sebelum Natal, aku khawatir di jalan macet. Hah, yang penting jalan dulu. Sekitar jam 7.30 aku berangkat dari kediaman mb Oda. Untuk tiba di merak, aku berpatokan harus melewati jalan arah kali deres, tangerang, serang, dan cilegon. Satu jam pertama perjalanan masih lancar, namun satu jam kemudian aku kebingungan mencari jalan ke luar Jakarta menuju Tangerang. Sempat muter-muter setengah jam sebelum akhirnya ku temukan jalan keluar Jakarta.
Selanjutnya perjalanan kembali lancar, namun setelah itu aku harus dua kali muter di jalan seputaran Tangerang. Aku masih sabar untuk melanjutkan perjalanan. Hingga akhirnya aku harus kembali kebingungan mencari jalan keluar dari Tangerang. Bayangin aja selama sekitar 2 jam aku berjalan ke arah yang penuh dengan ketidakpastian. Melewati pinggir pantai (rupanya utara Tangerang), melewati Bandara Soekarno Hatta, bahwan melewati jalan desa yang sepi kendaraan. Aku hampir putus asa, siang itu, mana panas, kepala pusing, hwaahhhh…. Yaa Tuhan, tolong aku… begitu teriakku yang aku yakin tak ada orang yang mendengar teriakanku itu. Walaupun demikian aku masih bisa bersabar, aku yakin Allah pasti akan menunjukkan kepadaku jalan yang benar. Alhamdulillah Yaa Rabb, akhirnya aku menemukan jalan tembus ke jalan besar di wilayah Balaraja. Dari situ perjalananku hingga pelabuhan Merak lancar. Aku tiba di pelabuhan merak pukul 16.30. Naik kapal ferry, aku lupa nama kapalnya. Sore ini kapal begitu sepi, tidak ada penumpang pejalan kaki, yang ada hanya penumpang yang membawa kendaraan. Aku termasuk dong, aku kan bawa si Vega. Setelah memarkir motor di dek bawah, aku naik ke dek atas untuk mencari tempat duduk. Di atas aku langsung mencari tempat yang pewe untuk tidur. Rasanya cuapek buanget, apalagi inget kejadian tadi siang. Hufff, aku langsung tidur sampe keringetan tubuhku. Bangun tidur, tidur lagi, itulah yang kulakukan sampai beberapa kali untuk memastikan apakah sudah tiba di Bakau apa belum. Jam 19.30, menara Siger sudah terlihat dengan jelas. Kapal segera merapat! Tepat jam 20.00 aku bersama Vega keluar dari kapal yang bermuatan kendaraan pribadi dan truk pengangkut barang-barang.
Lampung, I’m coming….
Subhanallah wal hamdulillah, aku sudah sampai di Pulau Sumatera, tepatnya di propinsi Lampung. Setelah lama tidak pulang, aku merasakan ada yang berbeda sepanjang perjalanan dari Bakau menuju rumah. 2 kata untuk Lampung, jalannya bagus. Yuph, selama aku melintasi jalan dari Bakau hingga rumah jalannya sudah mulus, sehingga aku dapat menggeber Vega dengan kecepatan tinggi namun tetap dalam kontrol, hingga aku dapat menempuh perjalanan sepanjang 97 km itu selama 1 jam 20 menit. Padahal ini sudah malam lho… Jarak pandangku kalau sudah malam tidak begitu jauh, namun aku bisa menjangkaunya karena didukung dengan jalan yang sudah bagus. Salut tuk Lampung.
Alhamdulillah aku tiba di rumah sekitar pukul 21.30. Aku disambut oleh bapak dan ibu yang sudah menunggu aku, bahkan dari tadi sudah menelpon aku, namun tidak aku jawab karena aku sedang membawa Vega. Sebelumnya bapak memprediksi aku akan tiba di rumah sekitar pukul 23, kalo ibu memprediksi aku tiba di rumah pukul 22. Dua-duanya tidak ada yang tepat, namun ibu mendekati benar prediksinya.
Selain di sambut oleh pelukan sayang ibuku, aku juga disambut oleh seporsi sate yang sengaja dibeli bapak untukku. Malam itu aku menikmati sekali bisa tiba di rumah dengan sehat wal afiat dan bisa bertemu dengan bapak, ibu, dan keluarga lain.
keyword: Lampung, menara siger, sumatera, Tangerang, vega
Ditulis oleh Rizki Kuncoro Hadi 0 komentar
From Bandung to Jakarta
Selasa, 22 Desember 2009 sekitar pukul 18.15 aku tiba di rumah kakakku di Marga Asih, Cimahi setelah melintasi jalanan yang padat di kota Bandung. Pada awalnya aku ragu bisa sampai di rumah kakakku, karena aku tidak begitu paham jalan di Bandung, namun setelah melihat peta dan dengan bantuan plang penunjuk arah akhirnya aku dapat tiba di rumah kakakku dengan waktu yang tidak lama. Memang tidak tersesat, namun yang terjadi hanya kelewatan jalan yang seharusnya berbelok ke kiri, aku masih jalan lurus terus di pasar Cimindi.
Rabu, 23 Desember 2009 pukul 7.40 saat tachometer menunjukkan angka 41623.0 myVega aku geber menuju Jakarta melintasi Puncak Bogor. Aku sengaja menuju Jakarta untuk bersilaturahmi terlebih dahulu bertemu dengan seorang temanku yang ada di Kampung Melayu dan orang yang telah ku anggap sebagai saudaraku yang tinggal di Komplek TNI AU Halim yang telah menerimaku saat aku touring untuk pertama kalinya ke Pulau Dewata tahun 2008.
Perjalanan kali ini aku nikmati hanya berdua dengan myVega, karena partnerku Satria telah kutinggalkan di ITB bersama kakaknya. Yah, perjalanan ini sangat mengasyikkan. Bagaimana tidak, perjalanan Bandung menuju Jakarta ini melintasi Cianjur, Puncak Bogor, Cibinong kemudian masuk Jakarta ke arah Kampung Melayu. Saat melintasi daerah Cipanas (sebelum Puncak dari arah Bandung) aku merasakan kedinginan yang sangat. Daerah ini berbukit-bukit dengan jalan yang berliku-liku menambah semangat aku untuk mempercepat laju si Vega. Di sini aku merasakan dingin yang sangat, jaket tebal plus pelindung dada yang kukenakan belum mampu menghindariku dari rasa dingin yang menyegarkan tubuh ini. Sepanjang perjalanan melintasi Cipanas ini, aku selalu memikirkan satu hal “Kenapa nama daerah Cipanas, tapi kok dingin sekali ya?”
Kalo di Cipanas, kesanku adalah suhu yang dingin, beda cerita saat aku melintasi kawasan Puncak. Di sini aku menikmati pemandangan yang Subhanallah indahnya. Dengan jalan yang menuruni bukit dan berliku-liku, membuat aku leluasa melihat pemandangan yang indah itu ke arah Bawah bukit ke arah kanan maupun kiri jalan. Pantas saja, kawasan puncak menjadi tempat wisata yang bisa dibuat saat akhir pekan bagi warga Jakarta dan sekitarnya untuk melepas penat setelah 5 hari bekerja dengan penuh persaingan.
Begitu Maha Besar-nya Allah yang telah menciptakan semua ini di Bumi Indonesia yang seharusnya menambah rasa syukur kita padaNya.
Saat keluar dari Bogor, aku menyempatkan untuk istirahat di Indomaret untuk beli minum. Siang itu jam sudah menunjukkan pukul 11.30. Waktu yang sudah cukup bagi matahari untuk membuat aku kepanasan. Air minum yang kuminum plus potongan roti sudah cukup membuatku segar dan semangat kembali untuk mencapai tujuan. Ketika ku buka HP, beberapa panggilan dengan nomor yang sama tak terjawab. Itu semua dari temanku yang sudah menungguku di tempat kerjanya di daerah Gudang Peluru, Jakarta Timur. Yah, emang aku harus tiba di sana kisaran jam 12-13 biar bisa ketemu. Setelah aku usahakan, upaya itu tidak berhasil, karena aku tiba di depan kantornya jam 13.30, mau gak mau, biar gak sia-sia, aku minta dia keluar aja. Ya alaupun sebentar sudah cukup bagiku untuk bersilaturahmi. Selanjutnya aku menuju Halim Perdanakusuma.
Perjalanan menuju Halim ini adalah perjalanan yang bodoh aku lakukan. Bagaimana tidak, sudah tau aku salah jalan, aku masih menggeber myVega dengan kecepatan stabil 80 km/jam. Sampe belasan kilometer aku tersadar kalo aku semakin jauh dari arah Halim. Akhirnya aku putar arah dan segera melesat munuju arah Halim. Cukup cepat aku bisa sampai Halim, sekitar pukul 14.30 aku sudah sampai di rumah mb Oda (suami dari om teman SMA-ku Arief).
Setelah itu, aku ngobrol dulu ama mb Oda, terus diajak makan siang ma mb oda yang udah disiapin “asisstant of house”. Mantab dah masakannya, laper sih sebenernya…
Gak lama setelah itu, aku langsung mandi terus tidur,zzzzzzzzz…….. bangun-bangun jam enam kurang lima gitu, hwaaa…. Belum sholat ashar, yaudah aku langsung wudhu dan sholat ashar dilanjut sholat maghrib setelah beberapa menit kemudian.
Malam ini, aku di ajak makan malam di luar bareng mb oda, mas hendro, dan nabila (anak mereka berdua). Kami menuju kawasan di daerah apa gitu, aku lupa, kemarin gak meratiin bener. Tapi yang jelas malem itu kami masuk rumah makan yang menyajikan masakan khas makasar. Ada Sop Konro, Konro Bakar, Coto Makasar, Es Pisang Ijo, sama Es Palu Butung. Aku pilih konro bakar. Agak lama menunggu, hidangan teh manis sudah disiapkan dahulu sebelum makanan pesanan datang. Beberapa menit kemudian, Konro Bakar datang juga, sama kaya iga bagar. Ajiiib nikmatnya konro bakar ditemeni ketupat plus kuah spesialnya. Aku tak sanggup untuk melanjutkan cerita ini karena akan mengingatkanku dan membuatku terasa lapar.
Setelah makan malam, kami langsung kembali ke rumah. Selanjutnya aku sholat isya’ dan tidur. Malam ini aku harus menyiapkan fisik agar perjalanan besok pagi menuju Lampung tidak ada masalah. ZZZZZZZzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz………………….
Selasa, 22 Desember 2009
Catatan Lelah menuju Paris van Java
Bermodal pengalaman touring ke Purwokerto (2007), Malang, Surabaya, Bali (2008), Bali, Lombok (2009) serta lebih dari 40.000 km jarak tempuh yang kulalui bersama my Vega. Hari ini (Selasa, 22 Desember 2009) kuberanikan diri tuk touring ke Lampung via Bandung dan Jakarta.
Perjalanan dimulai dari persiapan sehari sebelum keberangkatan. Setelah beberapa hari mencari partner untuk menjadi navigator, akhirnya kuberangkat bersama Satria (partner touring ke Lombok). Yah, malem selasa aku baru bisa packaging barang bawaan, namun sejak beberapa hari terakhir aku telah mempersiapkan segalanya, terutama si Vega yang sudah di-service, ganti oli, ganti ban, ganti kampas rem, dll. Malem selasa Satria pun bertandang ke kamarku, biar keberangkatan di esok harinya (hari ini-pen) bisa berjalanan tanpa hambatan atau harus menjemput dulu. So, tepat pukul 05.15 kami berdua berangkat dari Markaz Dafa. Baru jalan keluar besar, aku ingat kalo belum pakai pelindung dada, segera kami kembali ke Dafa untuk mengambil pelindung dadaku yang tergantung di balik pintu.
Speedometer menunjukan angka 41180,0 km. Sepanjang perjalanan ini tidak ada hambatan yang berarti. Sekitar pukul 8, saat melintasi daerah kebumen, aku merasakan mata yang tidak bersahabat alias ngantuk, untung saja motor masih bisa dikendalikan dengan aman. Sekitar pukul 10-an, kami istirahat sejenak di SPBU, lokasi aku lupa di mana. Yang jelas di SPBU ini ada semacam kursi panjang dari bambu yang sangat cocok untuk tiduran. Si Satria, langsung merebahkan badan di kursi itu, dan zzzz… tertidur sesaat. Aku sendiri, minum air mineral yang dibeli sebelumnya. Setelah itu, aku melanjutkan tuk menunaikan Sholat Dhuha. Alhamdulillah setelah selesai, aku membangunkan Satria… Wah rupanya, dia sudah memasuki alam bawah sadar dan telah bermimpi. Tapi, insyaAllah mimpi kering.
Saat melintasi daerah Ciamis, aku melihat ada Masjid Agung yang keren. Aku arahkan si Vega menuju tempat parkir. Waktu menunjukkan pukul 11.45, yaph tidak lama lagi zuhur. Kami istirahat untuk menunaikan sholat zuhur dan jamak Ashar. Sebelum mengambil air wudhu, kami menyempat diri untuk berfoto di depan Masjid Agung Ciamis ini. Arsitektur yang sangat bagus, dengan beberapa menara yang menjulang tinggi, dan kubah yang berbentuk setengah parabola menambah keindahan masjid ini. Sayangnya kami tidak bisa berlama-lama foto karena adzan telah berkumandang.
Singkat cerita, setelah menunaikan sholat aku merasakan ada yang tidak beres dengan perutku. Oiya, tadi pagi kan belum sarapan baru makan roti sobek doang. Aku mengajak Satria tuk mencari makan. Pada awalnya kami ingin makan di warteg, tapi aku berubah pikiran dan mencari makan di sekitar masjid. Jalan keluar gerbang masjid kita bisa menemui pedagang kaki lima yang menjajakan makanan. Di sini ada bakso, soto, kupat tahu, bubur ayam, dan aneka minuman. Setelah melewatinya, kami memilih makan di tempat yang menjual kupat tahu dan bubur ayam. Aku memilih menu bubur ayam dan ditemani segelas kopi susu, sedangkan Satria memilih menu kupat tahu dengan segelas es teh. Nikmatnya makan di saat perut lapar dan menyudahinya sebelum kenyang. Hidangan yang kunikmati harus mengeluarkan Rp 6.000,- sedangkan Satria harus membayar lebih mahal, Rp 7.500.
Perjalanan kami lanjutkan, kali ini kami melintasi daerah Majenang dan seterusnya. Trek di daerah ini sangat menantang. Jalan yang berliku-liku dan menanjak membuat aku harus waspada. Namun bermodal pengalaman sebelumnya baik melintasi daerah perbukitan di Bali, di Wonosari, di Banyumas membuatku serasa percaya diri dan mampu melintasi daerah ini dengan selamat dan tanpa hambatan. Hanya saja saku sempat kesal dengan bis dan truk yang jalannya ngeden (berat-pen) karena tidak kuat menahan beban mengeluarkan asap knalpot yang hitam pekat. Huaahh, aku paling sebel dengan hal ini. Tapi mau bagaimana lagi, ini resiko ketika sudah berada di jalan.
Tak terasa, sekitar pukul 14 kami telah memasuki kabupaten Bandung. Tepat azan Ashar berkumandang, kami tiba di Masjid Salman ITB. Segera Satria menghubungi abangnya yang sedang bekerja di kantor ITB, sedangkan aku menghubungi kakakku yang tinggal di Marga Asih. Namun, aku tidak mendapai jawaban dari kakakku, karena panggilan ku tidak dijawab, kali lagi tidur. Next, kami bertemu dengan abangnya Satria, setelah itu kami makan di Café sudut masjid Salman. Hmmm, ada menu yang membuat memoriku terbuka kembali. Ada Ayam Taliwang, yuph ini makanan khas Lombok – makanan yang aku makan saat kami berada di Lombok. Aku pilih menu ini ditemani kopi yang diblender gitu, aku lupa apa namanya.
Singkat cerita setelah makan, kami keluar dan menuju masjid Salman untuk pengambilan gambar (berfoto-pen). Sesaat keluar dari Café, aku melihat pandangan yang tidak mengenakkan. Aku melihat siswi SMA yang dengan nikmatnya mengebulkan asap rokok dari mulutnya di hadapan siswa yang mungkin pacarnya. Hmmm,,, apa gak kasian nih orang ama tubuhnya. Yaudah, aku dan Satria menuju dalam Masjid Salman. Masjid ini nampak mirip dengan Maskam UGM. Hanya saja arsitektur masjid ini berbeda dengan sentuhan kayu yang mendominasi interior masjid ini menambah nilai aestetika masjid ini. Tapi aku melihat masjid ini lebih kecil dibandingkan Maskam UGM. Namun, di luar masjid, aku melihat deretan sekretariat kegiatan rohani Islam yang beraneka ragam. Mulai dari kemuslimahan, kaderisasi, pengembangan ekonomi syariah, dll. Mereka memiliki ruangan tersendiri. Dahsyat memang, gimana gak hebat kerohanian Islamnya ya…
Aku kembali mencoba menghubungi kakakku, alhamdulillah kali ini dijawab. Ya, intinya aku harus segera ke rumah di Marga Asih saat ini juga, dan sendiri. Pada awalnya aku ingin minta dijemput, tapi suami kakakku sedang ke luar kota. Jadi aku harus ke rumah sendirian, jangan bilang ada Satria. Satria kan mau langsung ke kosan kakaknya. Akhirnya aku memberanikan diri menuju Marga Asih, aku lupa jalan dari ITB ke Marga Asih. Tapi aku memperhatikan plang penunjuk jalan yang sangat membantu. Akhirnya jam 17.50, aku sampai juga di rumah.
Saat ini, aku merasakan kenikmatan yang berbeda bila harus melewati perjalanan ini dengan naik bus atau kereta. Capek memang, jari-jari tangan yang keram, (maaf) pantat yang panas, kaki yang pegel, mata yang ngantuk. Tapi semua itu dapat kunikmati, karena nikmat bisa sampai di tempat tujuan dengan selamat. Besok pagi, perjalanan akan dilanjutkan menuju Bandar Lampung. Semoga baik-baik saja. Catatan ini akan bersambung…
keyword: bandung, ITB, salman, travelling, vega
Ditulis oleh Rizki Kuncoro Hadi 0 komentar
Great Mother...
Bisa saya melihat bayi saya?"pinta seorang ibu yang baru melahirkan penuhkebahagiaan. Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayilelaki yang mungil itu, ibu itu menahan nafasnya. Dokter yangmenungguinya segera berbalik memandangke arah luar jendela rumah sakit. Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belahtelinga!
Waktu membuktikan bahwa pendengaranbayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya sajayang tampak aneh dan buruk. Suatu harianak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya dipelukan sang ibu yang menangis. Iatahu hidup anak lelakinya penuh dengankekecewaan dan tragedi. Anak lelaki ituterisak-isak berkata, "Seorang anaklaki-laki besar mengejekku. Katanya,aku ini makhluk aneh."
Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia cukup tampan dengan cacatnya. Ia pundisukai teman-teman sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya di bidangmusik dan menulis. Ia ingin sekali menjadi ketua kelas. Ibunyamengingatkan, "Bukankah nantinya kauakan bergaul dengan remaja-remajalain?" Namun dalam hati ibu merasa kasihan dengannya.
Suatu hari ayah anak lelaki itubertemu dengan seorang dokter yangbisa mencangkokkan telinga untuknya. "Saya percaya saya bisamemindahkan sepasang telinga untuknya.Tetapi harus ada seseorang yangbersedia mendonorkan telinganya," katadokter. Kemudian, orangtua anak lelakiitu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya pada mereka.
Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya, "Nak, seseorang yang tak ingin dikenaltelah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia." kata sang ayah.
Operasi berjalan dengan sukses.Seorang lelaki baru pun lahirlah.Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya.
Beberapa waktu kemudian ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat.Ia menemui ayahnya, "Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar namunaku sama sekali belum membalas kebaikannya. " Ayahnya menjawab, "Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu." Setelah terdiam sesaat ayahnyamelanjutkan, "Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini."
Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia.Hingga suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu. Dihari itu ayah dan anak lelaki itu berdiridi tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku itu, lalu menyibaknya sehingga tampaklah... bahwa sang ibu tidakmemiliki telinga.
"Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya,"bisik sang ayah. "Dan tak seorang punmenyadari bahwa ia telah kehilangansedikit kecantikannya bukan?"
Pahamilah kawan..
Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh,namun di dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namunpada apa yang tidak dapat terlihat.
*(KINI KITA TELAH DEWASA.HATI IBU MESTI DIJAGA.JANGAN JADI ANAK DURHAKA.KASIHNYA IBU MEMBAWA KE SYURGA.SELAMAT HARI IBU KAWAN.)*
keyword: hari ibu
Ditulis oleh Rizki Kuncoro Hadi 0 komentar
Hijrah
Hijrah terpenting adalah dari SYIRIK kepada TAUHIID
Dari menuhankan harta
Dari menuhankan jabatan, kedudukan, kekuasaan,
Dari menuhankan penampilan
Dari menuhankan pujian dan penghormatan, popularitas
Dari menuhankan manusia, pasangan hidup, orang tua, anak-anak,
Dari menuhankan nafsu, syahwat, amarah
Dari menuhankan diri sendiri
Dari menuhankan kesenangan duniawi
Dari menuhankan apapun selain Allah
Hijrahlah menjadi LAA ILAAHA ILALLAH
Tiada Tuhan Selain ALLAH
Selain Allah hanyalah makhluk ciptaan-NYA yang lemah tak berdaya tanpa kekuatan-NYA
Yang bodoh tanpa percikan ilmu-NYA
Yang miskin papa tanpa titipan-NYA
Yang tersesat tanpa Tuntunan-NYA
Yang berlumur dosa tanpa ampunan-NYA
Yang hina dina tanpa kemuliaan dari-NYA
Semua makhluk mutlak adalah Milik-NYA, Ciptaan-NYA, dalam Genggaman-NYA tak dapat memberi manfaat sedikitpun tanpa ijin-NYA
Tak kuasa memberi mudharat sekecil apapun tanpa ijin-NYA
Cukuplah ALLAH...
Cukuplah ALLAH...
Cukuplah ALLAH...
by Ust. Yusuf Mansur
Ditulis oleh Rizki Kuncoro Hadi 0 komentar
Rabu, 16 Desember 2009
Kosakata Bahasa Jawa
amargi = karena
aran = nama
arep = hendak
arso = akan
asma = nama
aturi = persilakan
awit = karena
banjur = lalu
dipun gatosaken = diperhatikan
dumugi = sampai
gadhah = memiliki
hangganjar = memberikan
kagungan = memiliki
kedah = haruskedah = harus
kejaba = selain/kecuali
kejawi = selain
kepareng = boleh
kukuban = wilayah
lumunturing = dimaafkan
mekaten = demikian
nyawisaken = menyediakan
pangaksami - maaf
pangestu = doa restu
panggakih = perasaan
punika = ini
samudayanipun = semuanya
sarehiring = seiring
wekdal = waktu
sugeng riyadi = selamat hari raya
surya = tanggal
wilujeng = selamat
Ditulis oleh Rizki Kuncoro Hadi 0 komentar
.jpg)